
Terapi neurofeedback untuk anak bisa jadi salah satu pendekatan yang dipertimbangkan ketika anak masih mengalami kesulitan berkonsentrasi, mempertahankan fokus, atau mengatur perilakunya, meskipun berbagai upaya sudah dilakukan.
Sudah berdiskusi dengan guru, memberikan les tambahan, mengikuti saran psikolog, hingga berusaha mendampingi anak dengan lebih sabar. Namun, perkembangan yang terlihat masih belum sesuai harapan.
Dalam situasi seperti ini, parents mungkin mulai mencari tahu pendekatan lain yang bisa membantu anak. Setiap kali mendengar saran baru, muncul harapan, “Jangan-jangan, ini yang dibutuhkan anak saya.”
Namun, minggu berganti bulan, sementara tantangan yang sama masih terus muncul. Anak masih mudah kehilangan fokus saat mengerjakan PR, sering lupa instruksi, atau kesulitan menyelesaikan tugas yang tampaknya mudah bagi anak seusianya.
Lama-kelamaan, muncul pertanyaan: sebenarnya, apa yang membuat anak masih kesulitan meskipun berbagai cara sudah dicoba?
Bukan berarti belum ada upaya untuk membantu anak. Parents, guru, dan tenaga profesional mungkin sudah melakukan banyak hal untuk mendukung perkembangannya. Namun, ketika hasilnya belum sesuai harapan, mungkin sudah waktunya melihat tantangan tersebut dari sudut pandang yang berbeda.
Salah satu hal yang bisa dipelajari lebih lanjut adalah bagaimana terapi neurofeedback bekerja dan apa perannya dalam mendukung perkembangan anak.
Lalu, apa sebenarnya terapi neurofeedback, dan bagaimana pendekatan ini dapat membantu anak yang masih mengalami kesulitan dalam belajar, berkonsentrasi, atau mengatur perilakunya?
Ketika Anak Kesulitan, Apakah Mengulang Instruksi Saja Sudah Cukup?

Bayangkan seorang anak sedang belajar mengendarai sepeda.
Cara menjaga keseimbangan bisa dijelaskan, anak bisa diingatkan untuk melihat ke depan, dan ia bisa terus didorong untuk berlatih. Namun, memahami instruksi saja tidak otomatis membuat anak mampu melakukannya. Ia tetap perlu belajar menerapkan apa yang sudah dijelaskan.
Hal serupa juga terjadi dalam proses belajar.
Untuk mengikuti pelajaran dan menyelesaikan tugas, anak tidak hanya perlu memahami materi. Mereka juga membutuhkan kemampuan untuk mempertahankan perhatian, mengingat instruksi, mengendalikan impuls, dan menyesuaikan diri dengan situasi di sekitarnya.
Ketika anak mengalami kesulitan dalam keterampilan tersebut, mengulang instruksi atau meminta anak untuk lebih fokus belum tentu cukup untuk mengatasi masalahnya.
Tentu saja, kesulitan yang dialami setiap anak bisa berbeda. Tantangan dalam belajar dan mengatur perilaku dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perbedaan perkembangan, tantangan emosional, kurang tidur, hingga kesulitan tertentu dalam memahami pelajaran.
Karena itu, pendekatan yang diberikan perlu disesuaikan dengan kebutuhan anak. Terkadang, dukungan yang sudah ada perlu disesuaikan. Dalam situasi lain, asesmen yang lebih menyeluruh dapat membantu memberikan gambaran yang lebih jelas tentang kesulitan yang dialami anak.
Yang terpenting, anak yang perkembangannya lebih lambat dari harapan bukan berarti tidak berusaha.
Daripada hanya meminta anak untuk berusaha lebih keras, kita bisa mulai mencari tahu keterampilan apa yang masih perlu didukung dan pendekatan apa yang mungkin dapat membantunya.
Salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan adalah terapi neurofeedback.
Apa Itu Terapi Neurofeedback untuk Anak?
Terapi neurofeedback merupakan salah satu bentuk biofeedback yang menggunakan informasi dari aktivitas otak sebagai umpan balik selama latihan. Melalui proses ini, anak berlatih mengatur pola aktivitas otaknya ke arah yang menjadi sasaran latihan, sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan.
Saat menjalani terapi neurofeedback berbasis EEG, sensor yang ditempatkan pada kulit kepala merekam aktivitas listrik otak. Komputer kemudian mengolah sinyal tersebut untuk melihat pola aktivitas otak yang menjadi sasaran latihan, lalu memberikan umpan balik melalui tampilan visual, animasi, atau permainan interaktif.
Misalnya, anak dapat mengikuti permainan di layar atau menonton video yang terus berjalan. Tampilan tersebut merespons perubahan aktivitas otak sesuai dengan sasaran latihan yang telah ditentukan, sehingga anak mendapatkan umpan balik selama proses berlangsung.
Melalui latihan yang dilakukan secara berulang, anak diharapkan dapat belajar mengatur pola aktivitas otak yang menjadi sasaran latihan. Proses ini bertujuan mendukung perkembangan kemampuan regulasi diri yang relevan dengan kebutuhan anak.
Cara kerjanya bisa dibayangkan seperti proses mempelajari keterampilan baru melalui latihan dan umpan balik.
Saat belajar menulis, misalnya, anak secara bertahap menyesuaikan gerakan tangannya dengan melihat hasil tulisan yang dibuat. Dalam neurofeedback, umpan balik yang diterima berbeda karena berasal dari sinyal aktivitas otak yang direkam oleh sistem.
Dengan kata lain, terapi neurofeedback menggunakan informasi tentang aktivitas otak sebagai bagian dari proses latihan untuk mendukung kemampuan regulasi diri.
Apakah Terapi Neurofeedback Bisa Membantu Anak?
Bagi anak yang kesulitan mempertahankan perhatian, berkonsentrasi, atau mengendalikan responsnya, mengembangkan keterampilan tersebut membutuhkan waktu dan latihan yang sesuai.
Terapi neurofeedback menawarkan pendekatan yang berbeda dari sekadar mengoreksi perilaku yang terlihat. Anak berlatih dengan bantuan umpan balik dari aktivitas otaknya, dengan sasaran latihan yang ditentukan sesuai kebutuhan.
Sejumlah penelitian telah menunjukkan hasil yang menjanjikan, khususnya dalam penelitian mengenai anak dengan ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder).
Sebuah tinjauan sistematis tahun 2024 yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics mengkaji berbagai intervensi untuk anak dan remaja dengan ADHD. Dalam 12 studi yang melibatkan 945 peserta, tinjauan tersebut melaporkan adanya perbaikan gejala ADHD pada anak dan remaja yang menjalani neurofeedback.
Sementara itu, tinjauan sistematis dan meta-analisis tahun 2025 yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports menganalisis 17 uji klinis terkontrol secara acak yang melibatkan 939 anak dengan ADHD. Para peneliti melaporkan adanya perbaikan pada beberapa aspek fungsi eksekutif setelah latihan neurofeedback, seperti kemampuan mengendalikan respons impulsif (inhibitory control) dan mempertahankan serta mengolah informasi dalam ingatan jangka pendek (working memory).
Kedua keterampilan tersebut berperan dalam aktivitas sehari-hari. Misalnya, saat anak perlu menunggu giliran, mengikuti instruksi, mengingat langkah-langkah mengerjakan tugas, atau menyelesaikan pekerjaan sekolah tanpa mudah terdistraksi.
Lalu, apa artinya bagi parents?
Terapi neurofeedback dapat menjadi salah satu pendekatan yang dipertimbangkan untuk mendukung keterampilan tertentu yang dibutuhkan anak.
Di Brain Optimax, proses latihan dirancang secara terstruktur dengan memperhatikan kebutuhan anak, sasaran yang ingin dikembangkan, serta perkembangan selama proses latihan berlangsung.
Tujuannya bukan sekadar membuat anak terlihat lebih tenang atau lebih mudah mengikuti instruksi, melainkan mendukung pengembangan keterampilan regulasi diri yang dapat membantu aktivitas sehari-hari.
Sebelum Memulai Terapi Neurofeedback, Apa yang Perlu Dipahami tentang Anak?
Ketika anak terus mengalami kesulitan dalam belajar, mempertahankan perhatian, atau dalam mengatur perilakunya, perilaku yang terlihat belum tentu memberikan gambaran lengkap tentang apa yang sedang dialaminya.
Karena itu, memahami kebutuhan anak menjadi langkah penting sebelum menentukan pendekatan yang sesuai.
Tergantung pada kondisi dan kebutuhan anak, asesmen berbasis otak seperti EEG atau quantitative EEG (qEEG) brain mapping dapat digunakan untuk memperoleh informasi tambahan mengenai pola aktivitas otak.
Informasi dari asesmen menjadi salah satu tolak ukur dalam menentukan sasaran latihan neurofeedback.
Karena pada akhirnya, pemahaman terhadap kebutuhan anak tidak seharusnya hanya berfokus pada gejala atau label tertentu. Setiap anak memiliki tantangan, kekuatan, dan kebutuhan yang berbeda, sehingga pendekatan yang diberikan perlu disesuaikan dengan profil dan tujuan perkembangannya.
Membantu anak berkembang bukan sekadar mencari tahu apa yang salah atau mencoba intervensi baru. Yang tidak kalah penting adalah memahami keterampilan apa yang perlu didukung dan bagaimana bantuan yang diberikan dapat sesuai dengan kebutuhan anak.
Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Terapi Neurofeedback
1. Apakah anak perlu melakukan EEG atau qEEG brain mapping sebelum terapi neurofeedback?
Di Brain Optimax, proses selalu dimulai dengan brain mapping untuk mendapatkan gambaran mengenai pola aktivitas otak dan mengidentifikasi aspek yang mungkin memerlukan perhatian lebih lanjut sebelum menyusun rencana latihan neurofeedback.
Dengan memahami kondisi awal anak, sasaran dan protokol latihan dapat dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan masing-masing anak, bukan menggunakan pendekatan yang sama untuk semua anak.
2. Apakah terapi neurofeedback dapat menggantikan terapi lain atau pendampingan tumbuh kembang?
Tidak. Terapi neurofeedback ditujukan untuk melengkapi, bukan menggantikan, dukungan lain yang mungkin dibutuhkan anak.
Latihan otak berfokus pada pengembangan kemampuan regulasi diri tertentu. Namun, anak tetap membutuhkan kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan tersebut dalam situasi sehari-hari.
Bergantung pada kebutuhan masing-masing anak, dukungan tambahan dapat berupa pendampingan psikologis, intervensi perilaku, dukungan belajar, bimbingan bagi parents, atau terapi tumbuh kembang lainnya.
Sebagai contoh, anak mungkin menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam mengatur perhatian selama sesi latihan. Namun, ia masih bisa membutuhkan bantuan untuk menyusun tugas sekolah, mengikuti rutinitas di kelas, atau menemukan strategi belajar yang sesuai.
Karena itu, latihan neurofeedback sebaiknya dipertimbangkan sebagai bagian dari dukungan yang lebih menyeluruh. Dengan menggabungkannya bersama pendampingan praktis yang sesuai, anak memiliki lebih banyak kesempatan untuk menerapkan dan memperkuat keterampilan yang dilatih dalam kehidupan sehari-hari.
