ADHD & ADD di Indonesia: Sebuah Panduan Lengkap

Apakah anda ada pertanyaan banyak tentang ADHD/ADD tetapi bingung cari info dimana? Jangan khawatir! Berikut adalah panduan lengkap!

Chapter 1

Permasalahan Anak dan ADHD/ADD

Chapter 2

Apa itu ADHD/ADD?

Chapter 3

Gejala/Symptom ADHD/ADD

Chapter 4

Kenapa ADHD/ADD Bisa Terjadi?

Chapter 5

Bagaimana Saya Tahu Bahwa Anak Saya Ada ADHD/ADD?

Chapter 6

Anak Saya Ada ADHD/ADD, Saya Harus Melakukan Apa?

Chapter 7

Intervensi Medis Untuk ADHD/ADD

Chapter 8

Apa Yang Terjadi Jika Anak ADHD/ADD Tidak Dapat Bantuan?

Chapter 9

FAQ dan Penjelasan Pada Mitos ADHD/ADD

CHAPTER 1

Permasalahan Anak dan ADHD/ADD

Ketika anak memiliki perkembangan yang terlihat berbeda dari teman-temannya, dapat muncul kekhawatiran dari orang tua. Terlebih jika terdapat perbedaan dari segi perilaku dan kemampuan di sekolah.

COURE AS

Permasalahan Anak dan ADHD/ADD 

Nilai yang kurang, rendahnya motivasi belajar, dan tidak dapat berkonsentrasi adalah beberapa masalah umum pada anak usia sekolah. Orang tua perlu memperhatikan bahwa mungkin saja terdapat permasalahan mendasar yang dialami oleh anak dibalik performa belajar mereka.
Misal, seorang anak menolak untuk duduk rapi ketika pelajaran dimulai. Kebanyakan orang akan berfokus pada perilaku “tidak duduk rapi” dan memilih cara untuk mendisiplinkan anak dengan hukuman. Namun, jika ditelusuri lebih lanjut, ternyata anak tersebut memiliki kesulitan dalam memahami pelajaran dan tidak bisa mengekspresikan kesulitannya kepada orang tua. Hal ini membuat solusi mendisiplinkan anak tidak akan merubah apa-apa, kecuali permasalahan mendasar seperti pemahaman belajar diatasi.
Umumnya permasalahan pemahaman belajar dan konsentrasi dapat dikaitkan dengan ADD/ADHD, dan bentuk-bentuknya juga dapat berbeda pada setiap anak, sebagai contoh:
  • Tidak bisa diam di kelas dan mencari stimulus
  • Sulit konsentrasi pada tugas yang dikerjakan dan mudah terdistraksi
  • Mudah marah dan sensitif
Ketika permasalahan belajar maupun perilaku anak dirasa cukup sulit diatasi, maka ini adalah tanda-tanda bahwa anda membutuhkan bantuan lebih dalam mencari akar permasalahan yang dihadapi.

CHAPTER 2

Apa itu ADHD dan ADD?

Dua kondisi ini seringkali membuat masalah, dan kesulitan di sekolah atau dalam pekerjaan, dan dapat dimulai dari masa kanak-kanak dan gejalanya bisa bertahan hingga usia dewasa.

WHY

ADHD vs ADD

Klasifikasi terbaru menjelaskan bahwa semua kondisi kesulitan fokus dikategorikan sebagai Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (AD/HD). Termasuk dengan tipe-tipe ADHD seperti tidak atentif (inattentive), hiperaktif/impulsif, atau kombinasi.

Berdasarkan definisi dari International Classification of Diseases (ICD-11) ADHD atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder, adalah kondisi persisten yang biasa ditandai oleh kesulitan fokus, hiperaktivitas-impulsif, dan berakibat secara negatif pada performa akademik, pekerjaan, dan fungsi sosial (sumber).

Sesuai dengan definisinya, ADHD/ADD seringkali berdampak kepada masalah hubungan, kesulitan di sekolah atau dalam pekerjaan. Gejalanya dapat dimulai dari masa kanak-kanak dan bisa bertahan hingga usia dewasa.

ADHD

Attention Deficit Hyperactivity Disorder, adalah kondisi mental yang biasa ditandai oleh kesulitan fokus, hiperaktifitas, dan impulsif.

ADD

Attention Deficit Disorder, adalah kondisi mental yang mirip tetapi tidak ada faktor hiperaktivitas tinggi.

CHAPTER 3

Gejala (Symptoms) ADHD/ADD

Gejalanya biasanya sudah bisa dilihat bahkan sebelum menginjak umur 6 tahun. Gejala-gejalanya biasanya terjadi baik di rumah maupun di sekolah.
Tetapi, dua kondisi tidak bisa didiagnosis hanya melalui perilaku luar. Untuk diagnosa yang lebih tepat, dapat dilakukan melalui tes otak.

Gejala ADHD biasanya sudah bisa dilihat bahkan sebelum menginjak umur 6 tahun. Gejala-gejalanya biasanya terjadi baik di rumah maupun di sekolah. Berikut adalah 3 tipe ADHD:

Sulit Berkonsentrasi

Tipe pertama adalah sulit berkonsentrasi, juga diketahui sebagai ADD. Contoh tanda-tandanya adalah:
  • Mudah terdistraksi dengan yang ada di lingkungannya.
  • Sering membuat kecerobohan seperti sering lupa atau kehilangan barang.
  • Kesulitan mengerjakan tugas yang membutuhkan waktu yang lama.
  • Kesulitan mendengarkan dan mengikuti perintah
  • Kesusahan untuk mengorganisisr tugas-tugasnya

Hiperaktif

Tipe kedua adalah hiperaktif dan impulsif. Apa itu hiperaktif? Contoh tanda-tandanya adalah:
  • Sulit duduk diam
  • Sering gerak-gerak
  • Berbicara terlalu banyak
  • Beraksi tanpa berpikir
  • Sering memotong pembicaraan

Kombinasi

Tipe Terakhir adalah tipe kombinasi yang ada gejala campuran dari tipe sulit berkonsentrasi dan tipe hiperaktif:

  • Gejala sesuai dengan kedua gejala pada sulit konsentrasi dan hiperaktif-impulsif. 

 

    STOP!

    Walaupun yang dicatat diatas memang gejala dari ADHD/ADD, penting dipahami bahwa kondisi ini tidak bisa didiagnosis hanya dengan melihat dari gejala luar. Jika dilihat lebih dekat, gejala-gejala tersebut terlihat mirip dengan perilaku lain yang sebenarnya tidak berhubungan dengan ADHD/ADD.

    Sebagai contoh: 

    Anak A dan anak B memiliki gejala sebagai berikut:

    Sekilas gejala yang dialami sangat mirip, anak A dan anak B menunjukan tanda-tanda perilaku yang menunjukan ADHD. Namun, sesungguhnya anak A tidak memiliki ADHD walaupun perilakunya mirip dengan anak yang memiliki ADHD. Jika anak A diberi intervensi untuk anak ADHD, maka intervensi tidak akan tepat sasaran dan dapat berakibat buruk.

    Penelitian menemukan bahwa terdapat aktivitas yang kurang terstimulasi di otak bagian depan (frontal dan prefrontal) pada anak ADHD. Bagian otak ini berpengaruh terhadap kemampuan untuk meregulasi fokus dan kontrol impuls, sehingga anak ADHD/ADD cenderung sulit merespon atau merespon stimulus dengan lambat. Hiperaktivitas adalah salah satu perilaku yang dilakukan untuk membuat mereka terstimulasi. Oleh karena itu, obat-obatan yang diberikan kepada anak ADHD/ADD biasanya adalah stimulan untuk membantu otak mereka.

    Bagaimana dengan anak A? Jika ternyata gejala yang anak A alami bukan berasal dari kurangnya stimulasi. Ketika ditelusuri, aktivitas otak anak A cenderung berlebih, sehingga menimbulkan gejala yang sama. Maka, memberikan obat-obatan seperti stimulan TIDAK AKAN MEMBANTU di dalam jangka panjang dan akan ada konsekuensi untuk kesehatan anak A dalam jangka panjang. Seperti pada grafik diatas, otak membutuhkan rangsangan yang cukup untuk berfungsi secara normal, tidak berlebih maupun kekurangan. Jika anak A yang memiliki over-arousal atau aktivitas berlebihan diberi stimulan, maka tetap tidak berfungsi maksimal.

    CHAPTER 4

    Kenapa ADD/ADHD bisa terjadi?

    Tidak ada penyebab pasti, namun ditemukan beberapa faktor yang memengaruhi munculnya gejala pada anak.

    Genetik

    Penelitian menunjukkan bahwa genetik berpengaruh dalam resiko mendapatkan diagnosis. Namun tidak ada satu gen khusus yang berpengaruh secara langsung. Umumnya resiko ditingkatkan melalui hubungan antara genetik dan lingkungan.

    Otak dan Sistem Saraf

    Penelitian menunjukkan bahwa ADD/ADHD juga berhubungan dengan kelainan otak (dapat berasal dari, infeksi virus, trauma, masalah metabolisme, masalah toksin).

    Contohnya Hair Tissue Mineral Analysis (HTMA) HTMA merupakan analisa mendalam mengenai kandungan mineral dalam tubuh apakah kekurangan atau kelebihan, bahkan analisa mineral dapat mendeteksi apakah ada racun yang perlu dibuang dalam tubuh. HTMA memberikan analisis yang akurat serta informasi jangka panjang mengenai mineral dalam tubuh yang sangat penting bagi setiap organ, kelenjar, dan mekanisme tubuh.

    Lingkungan: Terpapar Toksin & Nutrisi 

    Terdapat hubungan antara pikiran dan kesehatan tubuh (mind-body connection). Paparan zat kimia berbahaya seperti timah (lead) dapat mengakibatkan kesulitan belajar, hiperaktif bahkan kerusakan pada otak dan lebih beresiko mengalami ADD/ADHD. Asupan nutrisi juga sangat berpengaruh, khususnya mineral yang terkandung pada makanan yang kita konsumsi. Contohnya, kekurangan seng (zinc) dapat mengakibatkan sulit konsentrasi serta gangguan belajar dan memori. Salah satu tes yang bisa dilakukan untuk cek tingkat kimia di bada adalah Hair Tissue Mineral Analysis (HTMA).
    Ingin mengetahui lebih lanjut mengenai nutrisi dan kesehatan? Klik disini

    CHAPTER 5

    Bagaimana saya mengetahui bahwa anak saya mengalami ADD/ADHD?

    Tes dan asesmen untuk ADHD/ADD yang banyak tersedia meliputi pemeriksaan wawancara maupun pengisian kuesioner. Cara tersebut sangat bergantung dengan perilaku luar atau gejala yang terlihat. Padahal, diagnosa tidak bisa hanya melalui perilaku/gejala. Hal ini yang menyebabkan banyak anak mengalami kesalahan diagnosa.

    ADD/ADHD merupakan kondisi neurodevelopmental, gangguan fungsi otak yang berhubungan dengan perkembangan anak. Oleh karena itu, sangat diperlukan pemeriksaan fungsi otak. Anak yang mempunyai gejala seperti sulit fokus, hiperaktif, dll bisa saja disebabkan oleh gangguan lain, begitu juga sebaliknya. Kesalahan diagnosa bisa fatal dan tidak menyelesaikan akar masalah.

    qEEG merupakan tes pemetaan otak agar fungsi otak dapat dievaluasikan dengan cara melihat aktivitas gelombang otak dan pencitraan sistem saraf. Seperti direkam dengan kamera video, qEEG merekam aktivitas di otak melalui rekaman multi-elektroda yang dipasang di kepala dan diproses oleh komputer. qEED adalah tes yang sudah diakui Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (The Food and Drug Administration of the United States (FDA)) sebagai tes berbasis sains yang sangat efektif untuk menganalisa masalah dengan otak (Lenartowicz & Loo, 2014) dan terutama juga sangat efektif untuk melihat apakah seorang ada ADHD/ADD (Monastra, et al., 1999)

    Menurut penelitian Monastra, qEEG ada akurasi setinggi 99% untuk mendeteksi ADHD dan qEEG adalah tes yang aman dan nyaman karena sama sekali tidak melakukan cara invasif, obat, maupun suntikan. Jika sudah melakukan qEEG, kami bisa mencari solusi spesifik dan efektif jika sepertinya ada fungsi otak yang belum optimal, yang dievaluasikan dari hasil qEEG.

    CHAPTER 6

    Ada kemungkinan anak saya ada ADHD/ADD, saya harus melakukan apa?

    Cara mengatasi berberapa gejala di rumah atau di sekolah.

    Apa yang bisa saya lakukan?

    1. Cek dan coba asesmen mandiri di website kami. Perhatian: asesmen ini bukan alat diagnosis. Hubungi tenaga profesional jika gejala berat. 
    2. Cari bantuan profesional yang dirasa tepat dan tentukan asesmen yang tepat untuk anda/anak anda.
    3. Cari dukungan melalui komunitas, sekolah, dan keluarga.

     

    File di bawah ini dapat menjadi panduan anda.

    Downloads

    Silahkan di download untuk dipakai di rumah!

    CHAPTER 7

      Intervensi Obat vs Intervensi Medis/Profesional Lain

    Perdebatan Obat dan Therapy lain, yang mana yang lebih efektif?

    Tentang Intervensi

    Memberikan obat-obatan untuk anak ADHD/ADD seperti memberi plester untuk tangan yang terluka dalam. Tanpa pengobatan yang tepat, luka dapat menjadi tambah besar atau bahkan terinfeksi. Untuk sementara mungkin bisa membantu, tetapi di masa depan, sebenarnya tidak akan berpengaruh, dan dapat membuat gejala lebih parah dengan menunda bantuan yang tepat (Meerman, et al., 2017). Penelitian juga menemukan bahwa penggunaan obat jangka panjang untuk ADHD/ADD tidak memiliki manfaat atau bahkan dapat berefek buruk. Dan obat ADHD/ADD hanya efektif untuk 70-80% anak yang ada ADHD/ADD. Obat stimulan yang sering dikonsumsi oleh anak ADHD/ADD dapat berefek buruk terhadap fungsi jantung.

    ADHD/ADD pada dasarnya terjadi karena disregulasi pada aktivitas otak. Sehingga, dibutuhkan intervensi pada akar permasalahannya, yaitu OTAK untuk dapat menangani secara tepat. Tahukah anda bahwa kita dapat melatih otak kita – sama seperti kita bisa melatih otot kita?

    Neuroplasticity

    Disebut juga sebagai plastisitas otak, merupakan karakteristik unik dimana otak bisa berubah – secara positif – ketika mendapat kesempatan pelatihan berbasis neuroplastisitas – atau yang disebut neuromodulasi

    Melalui pelatihan neuromodulasi otak kita tidak hanya mendapatkan peningkatan fungsi yang sifatnya jangka pendek tetapi akan menghasilkan peningkatan yang sifatnya permanen secara jangka panjang dan mencerminkan perubahan ‘struktural’ jika dijalani melalui latihan yang reguler.

    Berikut adalah beberapa pelatihan neuromodulasi:

    Lalu, Apakah Intervensi Yang Tepat?

    Neuroterapi adalah sebuah terapi yang melatih gelombang otak agar kinerja otak menjadi optimal. Neuroterapi dapat meningkatkan kinerja otak ADHD/ADD untuk meningkatkan konsentrasi, mengurangi hiperaktivitas dan impulsivitas. Setelah menjalani konsultasi qEEG, neuroterapi juga dapat dijalankan di Brain Optimax. Latihan otak menggunakan Neuromodulasi, atau “EEG Biofeedback” adalah sebuah cara terapi yang aman, nyaman, tidak invasif, dan juga tidak menggunakan obat. Neuromodulasi didukung oleh penelitian lebih dari 30 tahun.

    Sekilas Tentang: EEG Biofeedback!
    Biofeedback disebut sebagai tingkat pertama, yaitu dukungan/terapi paling baik untuk anak-anak dengan ADHD/ADD oleh The American Academy of Pediatrics (AAP) (Asosiasi Profesional Pediatris Amerika Serikat)
    Hal ini menunjukkan, Biofeedback adalah intervensi paling optimal. Rencana terapi akan disesuaikan secara kustom untuk setiap orang, karena semua otak istimewa dan beda!
    Sekilas Tentang: HEG Biofeedback!

    HEG dilakukan khusus untuk melatih otak bagian prefrontal cortex untuk meningkatkan aliran darah beroksigen masuk ke otak. Prefrontal cortex mempunyai peran penting sebagai fungsi eksekutif atau pusat kontrol yang dapat berpengaruh terhadap konsentrasi, kemampuan perencanaan & organisasi, dll.  HEG digunakan untuk mendeteksi aliran darah secara real-time sehingga dapat dilakukan pelatihan untuk meningkatkan aliran darah beroksigen. Semakin banyak darah beroksigen yang masuk akan meningkatkan aktivasi otak melalui metabolisme, sehingga dapat meningkatkan performa fungsi otak.  

    HEG merupakan salah satu solusi terbaik untuk mengatasi gejala yang disebabkan oleh ADHD (Serra-Sala, et al., 2016; Skalski et al., 2021). Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut, HEG dapat membantu meningkatkan kemampuan fungsi kognitif dan regulasi emosi. Perubahan yang didapatkan setelah pelatihan juga cenderung stabil dalam jangka panjang, bahkan ketika dibandingkan dengan penggunaan obat.

    Sekilas Tentang: tDCS!

    TDCS merupakan salah satu bentuk neuromodulasi yang menggunakan aliran listrik rendah untuk membantu aktivasi area otak spesifik sesuai dengan kebutuhan. Area yang kurang teraktivasi akan dilakukan stimulasi positif untuk meningkatkan fungsi otak. Sebaliknya, area yang memiliki aktivitas berlebihan akan dilakukan stimulasi negatif untuk mengurangi aktivitas. 

    Sudah terdapat banyak penelitian yang menemukan bahwa tDCS dapat membantu menurunkan gejala ADHD, terutama pada proses kognitif (Bandeira et al., 2016, Salehinejad et al., 2020). Salah satu metode yang juga aman dan minim efek samping adalah tDCS. 

    CHAPTER 8

    Apa yang bisa terjadi jika anak saya tidak mendapat bantuan yang tepat untuk ADHD/ADD?

    Kebahayaan ADHD/ADD yang tidak ditangani.

    Masalah Di Rumah Dan Sekolah

    Anak yang sedang berjuang dengan ADHD/ADD biasanya memiliki banyak kesulitan dengan belajar, terutama di sekolah. Biasanya, mereka tidak dapat fokus dan berkonsentrasi seperti anak lain yang tidak ada kebutuhan khusus, dan ini bukan salah mereka (Barkley, 2008).Tetapi jika tidak diatasi, gejala dan masalah bisa semakin parah. Kesulitan belajar akan menambah beban stress, dan anak akan lebih susah untuk mandiri. ADHD/ADD yang tidak diatasi juga dapat membuat anak memiliki harga diri rendah, bahkan depresi ataupun kecemasan.

    Masalah Dengan Emosi

    Mereka juga memiliki kemungkinan besar akan mengalami masalah dalam mengekspresikan emosi dengan cara sehat, karena ADHD/ADD juga memengaruhi emosi dan kontrol emosi anak (Avital, et al., 2017)
    Anak dengan ADHD/ADD juga punya kemungkinan untuk mengalami kesulitan dengan sosialisasi, menjalin hubungan dengan teman, atau hubungan romantis sewaktu dewasa. Masalah akan semakin parah seiring bertambahnya umur jika ADHD/ADD tidak diatasi dengan intervensi tepat.

    Bagaimana Dengan Self-Diagnosa?

    Self-diagnosis, atau diagnosi sendiri, juga ada bahayanya. Jika anda self-diagnosis dengan salah, ada kemungkinan perawatan yang diimplementasi akan juga salah. Masalahnya, self-diagnosis hanya melihat perilaku dan perasaan diri, tetapi tidak melihat di dalam otak, dan tidak lihat masalah dengan detail (Thatcher, 2021). Ada juga perilaku yang disebabkan oleh permasalahan di dalam tubuh, dan bukan karena ADHD. Itulah beberapa alasan kenapa tes dan intervensi yang tepat adalah sesuatu yang sangat penting, dan harus dimulai pada anak seawal mungkin, agar pencapaian bisa dioptimalisasikan ketika dewasa!

    CHAPTER 9

    FAQ & Mitos vs Kenyataan

    Mengenai pertanyaan umum seputar ADHD/ADD dan juga klarifikasi mitos tentang ADHD/ADD!

    FAQ

    Apakah ADHD/ADD bisa disebabkan oleh vaksin?

    Tidak, vaksin tidak bisa menyebabkan ADHD/ADD.

    Apakah ADHD/ADD bisa disembuhkan?

    ADHD dan ADD tidak merupakan kondisi yang bisa disembuhkan. Tetapi kami dapat membantu orang yang ada ADHD/ADD untuk menangani gejala agar mereka bisa mandiri dan mengatasi masalah yang disebabkan oleh gejalahnya.

    Bagaimana cara tes untuk ADHD/ADD?

    Salah satu tes yang paling efektif adalah tes qEEG, yang dijelaskan di Chapter 8!

    Apakah ADHD/ADD sebuah penyakit keturunan?

    Mayoritas kasus ADHD dan ADD di anak ada berhubungan dengan genetika, dan gene spesifik yang digabung dengan lingkungan. Ada juga kasus yang disebabkan oleh trauma/kerusakan otak.

    Apakah anak dengan ADHD/ADD bisa ke sekolah biasa/umum?

    Tentu saja bisa, dengan therapy, upaya, dan kesabaran anak dengan ADHD/ADD bisa sekolah umum dengan therapy yang tepat, dan sistem pendukungan yang kuat!

    Apakah orang dewasa juga dapat menderita gangguan mental seperti ADHD/ADD?

    Tentu saja, walaupun ADHD biasanya dimulai di masa kanak-kanak, penelitian menunjukkan bahwa 75% kasus ADHD/ADD pada masa kanak-kanak dapat bertahan sampai dewasa.

    ADDMISSION

    Mitos vs Fakta

    Mitos 1: Anak-anak ADHD pemalas dan bodoh

    Fakta 1: ADHD merupakan sebuah kondisi medis yang mempengaruhi otak dan perilaku anak. Gejala yang dialami bukan salah mereka.

    Mitos 2: ADHD bisa sembuh sendiri

    Fakta 2: ADHD tidak dapat sembuh sendiri. Namun, dengan terapi yang tepat, pengidap ADHD dapat mengelola gejala-gejalanya agar dapat menjadi lebih produktif dan mandiri.

    Mitos 3: Obat-obatan adalah cara yang terbaik untuk mengelola ADHD

    Fakta 3: Obat-obatan adalah cara invasif yang memiliki efek samping jika dikonsumsi secara jangka panjang. Sedangkan, neuroterapi adalah cara yang tidak invasif karena hanya mendeteksi gelombang otak dan melatihnya agar menjadi optimal.

    Join our newsletter!

    Join our newsletter!

    Dapatkan artikel terbaru dan e-book gratis dari Brain Optimax.

    You have Successfully Subscribed!

    Get Free Access To Empowering eBooks, Worksheets, and Self-Assessment Tools To Accelerate Your Child's Learning Today.

    Get Free Access To Empowering eBooks, Worksheets, and Self-Assessment Tools To Accelerate Your Child's Learning Today.

    Enter your email to access our resource library.

    Thanks for submitting the form. Here's the pass code for the free access resources: 12345