Terapi neurofeedback mungking masih terdengar cukup asing bagi sebagian orang tua. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah: bagaimana komputer bisa membantu melatih otak?
Konsepnya mungkin terdengar rumit, tetapi prinsip dasarnya cukup sederhana. Dalam terapi neurofeedback, aktivitas otak ditampilkan sebagai umpan balik yang membantu anak berlatih mengatur aktivitas otaknya selama sesi berlangsung.
Otak kita terus menghasilkan aktivitas listrik yang tidak dapat dilihat atau dirasakan secara langsung, tetapi aktivitas ini dapat direkam menggunakan teknologi EEG (electroencephalography). Hasil rekaman tersebut kemudian dapat digunakan untuk memberikan umpan balik selama sesi terapi neurofeedback berlangsung.
Lalu, apa yang terjadi selama sesi terapi neurofeedback? Apa yang membedakannya dari sekadar bermain atau melakukan aktivitas di depan komputer?
Apa Itu Terapi Neurofeedback?

Terapi neurofeedback merupakan salah satu bentuk biofeedback, yaitu metode latihan yang menggunakan informasi dari aktivitas tubuh sebagai umpan balik untuk membantu seseorang belajar mengatur respons tubuhnya.
Dalam terapi neurofeedback berbasis EEG, sensor yang ditempatkan pada kulit kepala merekam aktivitas listrik otak. Komputer kemudian mengolah sinyal tersebut untuk mengidentifikasi pola aktivitas otak yang menjadi sasaran latihan dan menampilkannya dalam bentuk umpan balik, misalnya melalui tampilan visual, animasi atau permainan interaktif.
Umpan balik ini dapat membantu anak mengenali perubahan aktivitas otak selama latihan berlangsung. Melalui latihan yang dilakukan secara berulang, individu berlatih mengatur pola aktivitas otak sesuai dengan sasaran latihan yang telah ditentukan.
Bagaimana Cara Kerja Neurofeedback?
Untuk memahami cara kerjanya, bayangkan ketika kita sedang mengatur suhu ruangan menggunakan termostat.
Tanpa termostat, ruangan mungkin terasa terlalu panas atau terlalu dingin, tetapi kita sulit mengetahui suhu sebenarnya secara akurat. Termostat dapat memberikan informasi tentang suhu ruangan sehingga penyesuaian dapat kita lakukan berdasarkan kondisi yang terukur.
Neurofeedback bekerja dengan prinsip serupa, yaitu memberikan informasi sebagai umpan balik untuk membantu proses belajar dan pengaturan diri. Bedanya, informasi yang digunakan bukan suhu ruangan, melainkan aktivitas otak selama latihan berlangsung.
Berikut tahapan dalam sesi terapi neurofeedback.
1. Aktivitas listrik otak direkam menggunakan EEG
Sensor yang ditempatkan pada kulit kepala merekam aktivitas listrik otak. Sensor ini hanya berfungsi merekam sinyal listrik dari otak, bukan menghantarkan listrik ke dalam otak.
2. Sinyal dari otak diolah oleh komputer
Komputer mengolah sinyal yang direkam sesuai dengan protokol latihan yang telah ditentukan berdasarkan hasil asesmen dan tujuan latihan.
3. Umpan balik ditampilkan melalui layar komputer
Informasi dari aktivitas otak digunakan untuk mengatur tampilan visual, seperti animasi atau permainan interaktif.
Sebagai contoh, animasi dapat terus bergerak ketika aktivitas otak memenuhi sasaran yang ditetapkan dalam protokol latihan. Jika aktivitas tersebut belum memenuhi sasaran, animasi dapat melambat, berubah, atau berhenti, tergantung pada sistem yang ditentukan.
4. Latihan dilakukan secara berulang
Selama sesi berlangsung, anak menerima umpan balik berdasarkan aktivitas otaknya. Informasi ini dijadikan panduan untuk berlatih mengatur pola aktivitas otak secara bertahap.
Tujuannya adalah mendukung proses belajar dan mengembangkan kemampuan regulasi diri melalui latihan berulang, bukan menghasilkan perubahan fungsi otak secara instan.
Karena setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda, sasaran latihan perlu ditentukan berdasarkan hasil asesmen EEG atau quantitative EEG (qEEG) brain mapping. Hasil asesmen ini menjadi salah satu dasar untuk menyusun protokol neurofeedback yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.
Apa yang Terjadi Selama Sesi Terapi Neurofeedback?
Dalam sesi terapi neurofeedback, anak biasanya duduk dalam posisi yang nyaman sambil melihat layar komputer, sementara sensor EEG merekam aktivitas otaknya.
Tergantung pada perangkat dan protokol yang digunakan, anak dapat menonton animasi, memainkan permainan sederhana, atau mengikuti aktivitas visual lainnya. Gerakan atau perubahan pada layar akan akan mengikuti sinyal aktivitas otak yang terdeteksi selama latihan berlangsung.
Anak tidak perlu memahami detail teknis mengenai EEG atau cara kerja sistemnya. Terapis bertanggung jawab mengoperasikan perangkat, mengatur jalannya latihan, dan mendampingi anak selama sesi berlangsung.
Penting untuk dipahami bahwa aktivitas di layar bukan sekadar permainan untuk membuat anak tetap sibuk atau terhibur. Animasi atau permainan tersebut berfungsi sebagai media umpan balik yang dapat membantu anak berlatih mengatur aktivitas otaknya melalui latihan berulang.
Namun, sebelum latihan dimulai, ada satu hal penting yang perlu dilakukan: memahami kondisi awal aktivitas otak anak agar sasaran latihan dapat ditentukan dengan tepat.
Mengapa Brain Assessment Harus Dilakukan Sebelum Memulai Terapi Neurofeedback di Brain Optimax?
Sebelum memulai terapi neurofeedback, kondisi awal aktivitas otak anak perlu diperiksa untuk membantu menentukan sasaran dan protokol latihan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Di Brain Optimax, pemeriksaan ini melibatkan brain mapping menggunakan EEG atau quantitative EEG (qEEG). Hasil pemeriksaan ini dapat memberikan informasi mengenai pola aktivitas otak anak yang dapat dipertimbangkan dalam merencanakan latihan neurofeedback.
Pemeriksaan ini penting karena kesulitan yang tampak serupa belum tentu berkaitan dengan pola aktivitas otak yang sama. Misalnya, dua anak yang sama-sama mengalami kesulitan berkonsentrasi mungkin memiliki kebutuhan latihan yang berbeda. Karena itu, sasaran dan protokol neurofeedback perlu ditentukan berdasarkan hasil asesmen masing-masing anak, bukan disamaratakan untuk semua anak.
Setelah latihan dimulai, perkembangan anak perlu ditinjau secara berkala untuk mengevaluasi apakah pendekatan yang digunakan masih sesuai dengan sasaran yang telah ditentukan.
Dengan demikian, terapi neurofeedback melibatkan lebih dari sekadar latihan di depan layar. Prosesnya mencakup pemahaman terhadap kebutuhan anak, perencanaan latihan berdasarkan hasil asesmen, dan evaluasi perkembangan selama terapi berlangsung.
Apakah Neurofeedback Didukung oleh Penelitian Ilmiah?
Terapi neurofeedback telah diteliti selama beberapa dekade. Penelitian mengenai metode ini mulai berkembang sejak tahun 1960-an, ketika para peneliti mempelajari bagaimana umpan balik dari aktivitas listrik otak dapat membantu seseorang belajar mengatur aktivitas otaknya sendiri. Salah satu fokus penelitian awal adalah sensorimotor rhythm (SMR), yaitu pola aktivitas listrik otak yang menjadi sasaran dalam jenis latihan neurofeedback tertentu.
Sejak saat itu, penelitian mengenai neurofeedback terus berkembang untuk mempelajari potensi manfaatnya pada berbagai kondisi, termasuk ADHD. Hingga saat ini, para peneliti masih terus mengkaji efektivitas metode ini serta kondisi dan aspek kemampuan yang mungkin dapat didukung melalui latihan neurofeedback.
Sebagai contoh, dalam penelitian mengenai ADHD, sejumlah tinjauan ilmiah telah mengeksplorasi potensi terapi neurofeedback dalam membantu memperbaiki gejala dan mendukung aspek fungsi kognitif tertentu.
Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics pada tahun 2024 mengkaji 21 penelitian mengenai neurofeedback. Dari penelitian tersebut, 12 studi yang melibatkan 945 peserta menunjukkan perbaikan gejala ADHD yang signifikan secara statistik pada kelompok yang menjalani neurofeedback.
Selain itu, meta-analisis yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports pada tahun 2025 menganalisis 17 uji klinis terkontrol secara acak yang melibatkan 939 anak dengan ADHD. Hasilnya juga menunjukkan perbaikan pada beberapa aspek fungsi eksekutif, termasuk kemampuan mengendalikan respons (inhibitory control) dan memori kerja (working memory) atau kemampuan untuk menyimpan dan menggunakan informasi dalam waktu singkat.
Temuan-temuan ini menambah bukti penelitian yang masih terus berkembang mengenai potensi terapi neurofeedback khususnya dalam mendukung aktivitas otak dan berbagai fungsi kognitif lainnya.
Bagi orang tua, penting untuk dipahami bahwa terapi neurofeedback merupakan pendekatan latihan yang telah diteliti dan menunjukkan hasil yang menjanjikan.
Apa yang Perlu Dipahami Orang Tua Sebelum Memulai Terapi Neurofeedback?
Sebelum memulai terapi neurofeedback, orang tua perlu memahami bahwa proses ini membutuhkan komitmen dan latihan yang konsisten. Neurofeedback bukan terapi yang dapat memberikan perubahan secara instan. Melalu sesi yang dilakukan berulang kali, anak diberikan kesempatan untuk berlatih mengatur pola aktivitas otaknya secara bertahap.
Karena itu, perubahan tidak dapat diharapkan hanya dari satu kali sesi terapi.

Durasi dan frekuensi latihan tergantung pada kebutuhan masing-masing anak, metode latihan yang digunakan, serta respons otak anak selama proses berlangsung. Perkembangan anak juga akan terus dipantau dan dievaluasi secara berkala untuk melihat apakah sasaran yang ditetapkan mulai tercapai.
Orang tua juga perlu memahami bahwa perubahan pada satu kemampuan tidak selalu langsung terlihat dalam semua aspek kehidupan sehari-hari.
Sebagai contoh, seorang anak yang kesulitan mempertahankan perhatian selama pelajaran harapannya akan mulai lebih mudah fokus setelah menjalani terapi neurofeedback. Tetapi hal ini tidak selalu secara otomatis diikuti oleh kenaikan nilai anak di sekolah. Prestasi akademik anak di sekolah dipengaruhi oleh kemampuan anak dalam memahami materi, mengingat informasi, menyelesaikan tugas, serta dukungan dari lingkungan belajar.
Hal yang sama berlaku untuk sasaran latihan lainnya. Terapi neurofeedback bertujuan melatih regulasi pola aktivitas otak yang berkaitan dengan kesulitan yang dialami anak. Namun, latihan ini tidak secara langsung mengajarkan keterampilan yang dibutuhkan anak dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dukungan dan latihan keterampilan tetap diperlukan sesuai dengan kebutuhannya
Hal yang sama berlaku untuk sasaran latihan lainnya. Terapi neurofeedback berfokus pada latihan mengatur pola aktivitas otak yang menyebabkan tantangan, tetapi tidak secara langsung mengajarkan semua keterampilan yang dibutuhkan anak dalam kehidupan sehari-hari.
Anak tetap harus belajar, mengikuti bimbingan dari orang tua, serta dukungan pendidikan atau terapi lain yang sesuai dengan kebutuhannya.
Sebelum memulai terapi neurofeedback, orang tua perlu memahami tujuan latihan, bagaimana perkembangan anak akan dievaluasi, serta dukungan lain yang mungkin masih dibutuhkan.
Dengan demikian, orang tua dapat memiliki ekspektasi yang realistis dan mendampingi perkembangan anak sesuai dengan kebutuhan dan kecepatannya masing-masing.
Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Neurofeedback
Apakah terapi neurofeedback aman untuk anak?
Di Brain Optimax, terapi neurofeedback berbasis EEG merupakan metode noninvasif. Sensor ditempatkan pada kulit kepala untuk merekam aktivitas listrik otak tanpa memasukkan alat ke dalam otak. Proses latihan ini tidak melibatkan pembedahan maupun pemberian obat.
Berapa banyak sesi terapi neurofeedback yang dibutuhkan?
Jumlah sesi neurofeedback yang dibutuhkan dapat berbeda pada setiap anak, tergantung pada kebutuhan, tujuan, dan repons selama proses berlangsung.
Pemeriksaan EEG atau quantitative EEG (qEEG) brain mapping memberikan gambaran mengenai pola aktivitas otak anak dengan membandingkannya terhadap data referensi yang sesuai. Hasil pemeriksaan ini dapat menjadi salah satu acuan dalam menyusun rencana latihan dan memperkirakan proses yang diperlukan untuk mencapai sasaran latihan.
Namun, hasil EEG atau quantitative EEG brain mapping tidak dapat digunakan untuk menentukan secara pasti berapa banyak sesi yang dibutuhkan setiap anak. Respons terhadap latihan berbeda-beda, dan perkembangan juga dipengaruhi oleh kebutuhan anak, konsistensi latihan, serta tujuan yang ingin dicapai.
Karena itu, terapi neurofeedback membutuhkan kesabaran dan ekspektasi yang realistis. Perkembangan anak juga perlu dievaluasi secara berkala agar rencana latihan dapat ditinjau dan disesuaikan berdasarkan respons anak selama proses terapi, bukan hanya berdasarkan jumlah sesi yang telah ditentukan sejak awal.
Apakah terapi neurofeedback dapat menggantikan terapi atau dukungan lainnya?
Tidak. Terapi neurofeedback tidak menggantikan terapi lain, dukungan pendidikan, atau intervensi perkembangan yang mungkin dibutuhkan anak.
Neurofeedback berfokus pada latihan mengatur pola aktivitas otak tertentu yang berkaitan dengan kesulitan yang dialami anak. Namun, latihan ini tidak secara langsung mengajarkan semua keterampilan yang dibutuhkan anak, seperti memahami pelajaran, mengelola rutinitas sehari-hari, atau mengembangkan keterampilan sosial. Karena itu, anak mungkin tetap membutuhkan terapi dan pendampingan sesuai dengan kebutuhannya.
Menggabungkan terapi neurofeedback dengan dukungan pendidikan, terapi, atau intervensi perkembangan yang sesuai dapat membantu memenuhi kebutuhan anak secara lebih menyeluruh.
Dengan melatih pola aktivitas otak yang berkaitan dengan kesulitan anak, terapi neurofeedback dapat membantu mengurangi hambatan yang mungkin memengaruhi kemampuannya dalam mengembangkan dan menerapkan keterampilan sehari-hari.
Meskipun demikian, anak tetap membutuhkan dukungan yang sesuai agar keterampilan tersebut dapat berkembang dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bacaan Lebih Lanjut
- Treatments for ADHD in Children and Adolescents: A Systematic Review. Pediatrics, 2024. https://doi.org/10.1542/peds.2024-065787
- Neurofeedback Training for Executive Function in ADHD Children: A Systematic Review and Meta-Analysis. Scientific Reports, 2025. https://doi.org/10.1038/s41598-025-94242-4
- Review of the Therapeutic Neurofeedback Method Using Electroencephalography: EEG Neurofeedback. 2019. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6716090/
