Strategi Mengajar Anak ASD di Lingkungan Sekolah

Jun 17, 2016 | ASD | 0 comments

Anak ASD tentunya akan mengalami banyak kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan di sekitarnya. Dengan mengikuti 5 tips singkat di bawah ini, pengajar dan orang tua dapat mempersiapkan yang terbaik untuk anak-anak mereka agar dapat lebih mudah mengikuti pelajaran di sekolah.

1. Lingkungan Belajar yang Kondusif

Anak ASD mudah terdistorsi oleh benda-benda atau tekstur yang berada di sekitarnya. Sebagian dari mereka juga hipersensitif terhadap cahaya, suara, tekstur, bahkan aroma. Hal tersebut akan membuat anak menjadi tidak nyaman saat belajar.

Oleh karena itu, sebaiknya tidak perlu menempelkan berbagai macam gambar di tembok kelas. Salah satu solusinya adalah menempelkan hanya satu gambar yang diganti secara berkala sesuai tema yang sedang diajarkan.

Kita juga harus memastikan agar penerangan di dalam kelas cukup baik, tidak banyak barang, dan jumlah anak di dalam kelas tidak terlalu banyak (5-10 anak dengan 2 guru).

2. Memahami Cara Belajar Anak

Sebagian besar anak ASD lebih mudah belajar dengan metode visual-kinestetik. Sebaliknya, anak Asperger lebih mudah belajar dengan metode auditori. Sebagai pengajar, sangat penting untuk mempersiapkan alat peraga sebagai media belajar. Anak-anak akan mendapatkan pengalaman yang menyenangkan saat belajar karena ada gambar yang dilihat atau ada aktivitas yang dilakukan.

Apabila pengajar memiliki keterbatasan modal untuk menyiapkan alat peraga, pengajar juga dapat berperan sebagai alat peraga, misalnya dengan menunjukkan ekspresi wajah, nada suara, bahkan gerakan tubuh untuk menarik perhatian mereka.

Selain itu, materi yang disampaikan dapat diringkas dalam bentuk mindmap sehingga anak dapat mudah mengingat kata kunci yang diberikan. Pengembangan materi dapat diajarkan melalui latihan dan metode tanya-jawab yang diulang-ulang. Penyampaian materi yang panjang dan bertele-tele tidak akan dimengerti oleh mereka. Sebaliknya, informasi yang disampaikan dengan singkat dan jelas akan dengan mudah diingat oleh mereka.

3. Mengajarkan Kemandirian

Anak ASD sangat kaku di dalam kesehariannya. Mereka terbiasa dengan rutinitas dan akan merasa gelisah, bahkan marah apabila ada hal yang dirubah atau berbeda dalam kegiatannya. Oleh karena itu, diperlukan disiplin dan konsistensi saat mengajarkan hal-hal baru pada mereka.

Pada awalnya, kita dapat memberikan contoh dan melakukannya bersama. Setelah itu berikan tantangan untuk anak agar dapat melakukannya sendiri. Beri pujian apabila dia berhasil, dan lakukan hal tersebut berulang kali sampai anak terbiasa.

“Mulailah dari tugas yang paling mudah, sehingga anak dapat belajar menyesuaikan diri sedikit demi sedikit sampai anak tersebut dapat menjadi mandiri.”

4. Berolahraga

Olahraga sangat penting untuk memaksimalkan performa anak saat belajar. Sebelum mulai belajar, ada baiknya jika anak diajak melakukan olahraga ringan seperti berlari, melompat, dan brain gym. Setelah berolahraga, pastikan anak minum air putih agar tidak menjadi dehidrasi.

Dengan berlari, aliran darah di dalam tubuh akan menjadi lancar dan membuat anak menjadi lebih segar saat belajar, selain itu mereka juga akan menjadi lebih tenang (teknik ini dikenal dengan nama teknik higashi).

5. Melatih Cara Bersosialisasi

Anak ASD perlu diajarkan cara untuk bersosialisasi karena mereka memiliki keterbatasan dalam hal komunikasi. Oleh karena itu, kita perlu mengajarkan anak untuk memahami ekspresi wajah, bermain peran, memahami inti situasi dan belajar untuk berkomunikasi dua arah.

Mereka juga perlu diajarkan mengenal berbagai macam situasi dan menempatkan diri dalam berbagai situasi. Hal tersebut dapat dilatih dengan simulasi dan permainan bersama dengan orang terdekat sebelum anak benar-benar dilatih pada situasi yang sebenarnya.

References:

(1)Centers for Disease Control and Prevention (March 27, 2014). CDC estimates 1 in 68 children has been identified with Autism Spectrum Disorder. Retrieved from http://www.cdc.gov/media/releases/2014/p0327-autism-spectrum-disorder.html

(2)King, M., & Bearman, P. (2009). Diagnostic change and the increased prevalence of autism. International Journal of Epidemiology, 38, 1224-1234.doi: 10.1093/ije/dyp261

(3)Hertz-Picciotto, I. & Delwiche, L. (2009). The rise in autism and the role of age at diagnosis. Epidemiology, 20(1), 84-90.doi: 10.1097/EDE.06013e3181902d15

(4)Kim, Y. S., Leventhal, B. L., Koh, Y., Fombonne, E., Laska, E., Lim, E., … , Grinker, R. R. (2011). Prevalence of Autism Spectrum Disorders in a total population sample. American Journal of Psychiatry, AiA, 1-9.doi: 10.1176/appi.ajp.2011.10101532

Share artikel ini:

Join our newsletter!

Join our newsletter!

Dapatkan artikel terbaru dan e-book gratis dari Brain Optimax.

You have Successfully Subscribed!